Take On Page Berita Olahraga

Take On Page News Olahraga Terupdate dan Terbaru ikuti update terbaru berita bola dari club ternama diseluruh dunia.

Take On Page Berita Olahraga

Take On Page News Olahraga Terupdate dan Terbaru ikuti update terbaru berita bola dari club ternama diseluruh dunia.

Uncategorized

Alasan Utama Mengapa MU Bisa Kalah dari Everton

Alasan Utama Mengapa MU Bisa Kalah dari Everton. Malam yang memalukan menyelimuti Old Trafford saat Manchester United menjamu Everton di pekan ke-12 Liga Utama Inggris musim 2025/26. Pada 24 November 2025, tuan rumah kalah 0-1 dari tim tamu yang bermain dengan 10 pemain sejak menit ke-13 akibat kartu merah Idrissa Gueye yang menampar rekan setimnya sendiri, Michael Keane. Gol indah Kiernan Dewsbury-Hall di menit ke-29 jadi penentu, memanfaatkan kelengahan pertahanan tuan rumah. Ini bukan kekalahan biasa; ini sejarah hitam pertama di mana Manchester United kalah di kandang melawan tim yang kehilangan satu pemain—dari 46 laga serupa sebelumnya, mereka menang 36 dan imbang 10. Kekalahan ini memutus rentetan tak terkalahkan lima laga dan menandai tiga pertandingan tanpa kemenangan, jatuh tepat setahun setelah Ruben Amorim memulai era kepelatihannya. Dengan penguasaan bola 68 persen dan 18 tembakan, tapi nol gol, pertanyaan besar muncul: mengapa tim unggul jumlah ini gagal total? Jawabannya terletak pada kombinasi ketidakefisienan, kelelahan, dan kurangnya intensitas. INFO CASINO

Kurangnya Ketajaman di Lini Depan: Alasan Utama Mengapa MU Bisa Kalah dari Everton

Dominasi statistik Manchester United tak berarti apa-apa tanpa konversi peluang. Meski melepaskan 18 tembakan—10 tepat sasaran—mereka gagal cetak gol, dengan xG hanya 1.8 meski lawan bertahan dengan 10 orang. Joshua Zirkzee, starter pertamanya musim ini, sia-siakan sundulan dekat gawang di menit ke-45, sementara Bruno Fernandes tembakannya dari jarak dekat dimentahkan Jordan Pickford. Amunisi seperti Rasmus Hojlund dan Alejandro Garnacho tampak lelah pasca-internasional break, dengan passing akurasi Fernandes turun ke 78 persen—terendah musim ini. Amorim akui pasca-laga: “Kami punya segalanya tapi tak bisa ubah jadi gol.” Ini soroti masalah kronis: lini depan bergantung pada momen brilian, bukan pola konsisten. Everton, dengan formasi 4-4-1 rapat, blok 12 tembakan dan manfaatkan serangan balik cepat. Tanpa ketajaman, dominasi jadi sia-sia, seperti tembakan voli Matthijs de Ligt yang lebar di menit ke-62. Ini bukan hari sial; ini pola yang butuh perbaikan mendesak.

Kelelahan dan Dampak Jeda Internasional: Alasan Utama Mengapa MU Bisa Kalah dari Everton

Jeda internasional akhir pekan lalu jadi bumerang bagi skuad Amorim. Pemain kunci seperti Kobbie Mainoo dan Diogo Dalot baru pulang Senin pagi, terlihat lesu sepanjang laga. Penguasaan bola tinggi tapi intensitas rendah: jarak lari tim hanya 102 km, 15 persen di bawah rata-rata musim ini. Fernandes, yang main untuk timnas Portugal, kalah 5 duel—terburuknya sejak Agustus. Zirkzee, dari Belanda, tampak lambat bereaksi saat peluang emas. Amorim ganti Noussair Mazraoui dengan Mason Mount di babak kedua untuk tambah energi, tapi terlambat; United baru tekan keras setelah menit ke-70, saat Everton sudah nyaman unggul. Everton, dengan rotasi lebih segar—hanya empat pemain internasional—punya stamina lebih, meski outnumbered. Gueye diganti Tim Iroegbunam di menit 13, dan Moyes masukkan Beto serta Dwight McNeil untuk jaga keseimbangan. Kelelahan ini bukan alasan, tapi fakta: tim tuan rumah terlihat kikuk, seperti umpan hoofed Fernandes yang picu gol Dewsbury-Hall. Jadwal padat ke depan lawan Crystal Palace bakal uji adaptasi Amorim.

Kesalahan Bertahan yang Mahal

Alih-alih solid, pertahanan Manchester United justru longgar saat kehilangan fokus. Gol Dewsbury-Hall lahir dari kesalahan kolektif: Fernandes tidur saat tracking runner, Leny Yoro kalah posisi, dan Senne Lammens tak gerak cepat. Dewsbury-Hall dapat ruang leluasa 20 meter, lepaskan tendangan melengkung tak tertahankan—pertama kalinya Everton cetak gol dari luar kotak di Old Trafford sejak 2019. Secara keseluruhan, United kebobolan dari set-piece dan open play, dengan duel udara dimenangi Everton 55 persen meski 10 orang. James Tarkowski dan Keane (korban tamparan) jadi benteng, blok tiga tembakan krusial. Amorim kritik lini belakang: “Kami fragmented, tak kompak.” Ini tambah rekor buruk: tiga clean sheet hilang di kandang musim ini. Everton manfaatkan blunder ini dengan disiplin, meski Gueye beri mereka “backs-to-the-wall mentality” seperti kata Moyes. Tanpa perbaikan, kelemahan ini bisa ulangi kekalahan seperti lawan Tottenham bulan lalu.

Reaksi dan Dampak Jangka Pendek

Amorim frustrasi maksimal, lambaikan tangan dan teriak di pinggir lapangan: “Ini pelajaran mahal, tapi tanggung jawab pemain.” Fernandes lempar sarung tangan setelah peluang sia-sia, sementara suporter tiup peluit dan ejek di akhir—suasana kontras dengan sorak Everton. Moyes puji timnya: “Mereka bertarung seperti singa, ini untuk fans setia.” Dampak langsung: posisi 10 klasemen dengan 18 poin, tertinggal enam dari zona Eropa. Amorim rencana rotasi skuad akhir pekan, tapi tekanan naik—ini kekalahan pertama lawan tim merah sejak September. Everton naik ke 11, moral boost dua kemenangan beruntun. Laga ini soroti perlunya introspeksi: dari taktik hingga mental. Amorim tetap pegang 3-4-3, tapi kritik bilang butuh variasi untuk lawan bertahan rapat.

Kesimpulan

Kekalahan dari Everton ungkap alasan utama kegagalan Manchester United: ketidakefisienan depan, kelelahan pasca-jeda, dan blunder bertahan yang picu gol cepat. Meski unggul 77 menit, mereka tampil lethargic, biarkan tim tamu heroik dengan 10 orang. Ini rekor memalukan, tapi peluang Amorim bangun skuad lebih tangguh. Musim panjang, dan respons selanjutnya tentukan apakah ini titik balik atau lubang lebih dalam. Old Trafford butuh kemenangan cepat untuk pulihkan kepercayaan—Everton pulang sebagai pahlawan tak terduga.

BACA SELENGKAPNYA DI…