Sadio Mane Ceritakan Kejadian Keributan Burnley 2019
Sadio Mane Ceritakan Kejadian Keributan Burnley 2019. Enam tahun setelah kejadian ikonik itu, Sadio Mane akhirnya buka suara lengkap soal keributan di Turf Moor pada 31 Agustus 2019. Saat Liverpool menang telak 3-0 atas Burnley di musim juara Premier League 2019/2020, Mane yang diganti keluar malah meledak marah di bangku cadangan. Gestur tangan, teriakan, dan wajah merah padamnya langsung jadi viral. Kini, di akhir November 2025, penyerang Senegal itu ceritakan versi lengkapnya: marahnya benar-benar nyata, tapi justru membuat hubungannya dengan Mohamed Salah semakin kuat. BERITA BASKET
Apa yang Sebenarnya Terjadi di Lapangan: Sadio Mane Ceritakan Kejadian Keributan Burnley 2019
Pertandingan berjalan lancar untuk Liverpool. Gol bunuh diri Chris Wood, gol Mane sendiri, dan Roberto Firmino menutup kemenangan. Tapi di menit-menit akhir, Salah dapat bola di posisi bagus. Mane sudah bebas total di sebelah kiri, siap tap-in mudah. Alih-alih umpan, Salah pilih tembak sendiri dan gagal. Mane langsung protes di lapangan. Saat diganti tak lama kemudian, emosinya meledak: melambai-lambai tangan ke arah bangku, duduk sambil menggerutu, bahkan harus ditenangkan rekan setim. Kamera menangkap semuanya, dunia sepak bola langsung heboh soal “persaingan ego” di lini depan Liverpool.
Mane akui sekarang, “Saya benar-benar sangat marah saat itu. Dia seharusnya kasih bola ke saya, posisinya sangat jelas.” Bahkan saat nonton ulang klip itu bertahun-tahun kemudian, Mane masih tertawa melihat ekspresi wajahnya sendiri yang “luar biasa” kesal.
Percakapan di Ruang Ganti yang Mengubah Segalanya: Sadio Mane Ceritakan Kejadian Keributan Burnley 2019
Yang tak banyak orang tahu adalah apa yang terjadi setelah peluit akhir. Di ruang ganti, Salah langsung dekati Mane. “Sadio, kenapa kamu marah?” tanya Salah. Mane jawab blak-blakan: “Kamu harus kasih bola ke saya tadi, Mo!” Respons Salah sederhana tapi tulus: “Saya nggak lihat kamu. Kamu tahu saya nggak ada masalah apa-apa sama kamu.”
Mane bilang, obrolan jujur itu langsung selesaikan semuanya. “Kami bicara terbuka, saling paham, dan setelah itu kami malah semakin dekat.” Mane bahkan bercanda, “Mo mau jadi top scorer, saya bilang saya bisa bantu kok. Saya nggak masalah.” Roberto Firmino, yang sering jadi penyeimbang di trio depan, juga disebut Mane sebagai satu-satunya yang selalu mau berbagi bola tanpa drama.
Dampak Positif bagi Tim Juara
Keributan itu justru jadi titik balik. Musim 2019/2020, Liverpool akhirnya angkat trofi Premier League pertama setelah 30 tahun. Mane cetak 18 gol, Salah 19 gol, plus puluhan assist bersama. Persaingan sehat mereka dorong performa satu sama lain. Mane tekankan, rumor “perang dingin” berlebihan. “Kami berdua orang baik, saling hormat, dan kompetitif. Itu bukan hal buruk.”
Sekarang, Mane dan Salah main di liga yang sama lagi di Arab Saudi, tapi cerita mereka di Liverpool tetap legenda: dua monster gol yang pernah ribut gara-gara bola, tapi akhirnya saling bikin lebih baik.
Kesimpulan
Kejadian Burnley 2019 yang dulu dianggap retaknya trio depan Liverpool, kini terungkap sebagai momen manusiawi yang memperkuat ikatan. Sadio Mane, dengan senyum khasnya, buktikan bahwa emosi di lapangan tak selalu berarti permusuhan. Justru keterbukaan setelahnya yang bawa Liverpool ke puncak. Enam tahun kemudian, cerita ini jadi pengingat: di balik sorotan keras sepak bola modern, ada ruang ganti tempat masalah diselesaikan dengan obrolan sederhana. Dan itu yang membuat tim hebat jadi juara sejati.