Take On Page Berita Olahraga

Take On Page News Olahraga Terupdate dan Terbaru ikuti update terbaru berita bola dari club ternama diseluruh dunia.

Take On Page Berita Olahraga

Take On Page News Olahraga Terupdate dan Terbaru ikuti update terbaru berita bola dari club ternama diseluruh dunia.

Uncategorized

Mengapa Playoff Piala Dunia Italia Selalu Sangat Sulit?

Mengapa Playoff Piala Dunia Italia Selalu Sangat Sulit? Pada November 2025, Azzurri kembali berada di persimpangan mencekam: playoff kualifikasi Piala Dunia 2026. Setelah Norwegia mengamankan posisi lolos langsung lewat kemenangan telak 4-1 atas Moldova, Italia nyaris mustahil finis juara Grup I UEFA. Ini déjà vu bagi tim berlima bintang itu, yang sudah dua kali tersingkir di playoff—lawan Swedia 2018 dan Makedonia Utara 2022. Mengapa playoff selalu jadi mimpi buruk bagi Italia? Bukan sekadar nasib sial, tapi campuran faktor historis, taktis, dan mental yang membuat babak ini terasa seperti medan perang tanpa ampun. Dengan pelatih Luciano Spalletti yang masih berjuang bangun skuad pasca-Euro 2024, pertanyaan besar kini: akankah Maret 2026 jadi penebusan atau babak baru kegagalan? Mari kita gali alasan di balik sulitnya playoff bagi Italia, yang kini jadi cerita klasik sepak bola Eropa. BERITA BOLA

Sejarah Playoff yang Menghantui Azzurri: Mengapa Playoff Piala Dunia Italia Selalu Sangat Sulit?

Playoff Piala Dunia bagi Italia bukan hal baru, tapi selalu berakhir tragis. Edisi 2018 jadi titik nadir: setelah finis runner-up Grup G di bawah Spanyol, Italia bertemu Swedia di San Siro dan Stockholm. Leg pertama berakhir 1-0 untuk Swedia berkat gol Emilia Forsberg, sementara leg kedua Azzurri gagal cetak gol meski kuasai bola 70 persen. Gianluigi Buffon menangis di lapangan, simbol akhir era emas. Empat tahun kemudian, 2022, nasib tak berubah. Finis kedua di Grup C UEFA, Italia kalah agregat 0-1 dari Makedonia Utara—gol Aleksandar Trajkovski di Reggio Emilia hancurkan mimpi. Dua kekalahan ini bukan kebetulan; playoff UEFA dirancang ketat, dengan undian semi-final yang sering pasangkan runner-up kuat lawan runner-up lemah tapi lapar.

Statistiknya kejam: sejak format playoff UEFA diperkenalkan 1998, Italia hanya lolos sekali dari tiga kesempatan—melawan Rusia 2002. Di 2026, Grup I jadi medan perang: Italia kalahkan Israel 2-1 dan Estonia 3-0, tapi imbang melawan Norwegia dua kali dan kalah dari Moldova di laga pembuka Maret. Norwegia, dengan Erling Haaland sebagai senjata utama, finis 22 poin dari 10 laga, sementara Italia kumpul 17 poin—cukup untuk playoff, tapi tak untuk lolos langsung. Sejarah ini ciptakan lingkaran setan: kegagalan playoff erodasi kepercayaan, yang bikin performa grup kurang meyakinkan. Spalletti akui, “Kami bayar harga dari masa lalu,” setelah laga terakhir November. Playoff bukan cuma laga tambahan; bagi Italia, itu ujian akhir yang sering gagal dilewati.

Faktor Teknis: Kurang Tajam di Momen Krusial: Mengapa Playoff Piala Dunia Italia Selalu Sangat Sulit?

Secara taktis, playoff sulit bagi Italia karena gaya bermain mereka yang defensif tapi rapuh saat butuh gol. Di bawah Spalletti, Azzurri pakai 3-5-2 klasik, fokus intersepsi dan serangan balik—efektif di fase grup, tapi mandul di playoff di mana setiap peluang harus dikonversi. Lawan Swedia 2018, Italia cetak 22 tembakan tapi nol gol; vs Makedonia 2022, 31 tembakan sia-sia. Masalahnya di finishing: Giacomo Raspadori dan Mateo Retegui musim ini catatkan konversi peluang cuma 8 persen, jauh di bawah rata-rata Eropa 12 persen. Playoff UEFA, dengan dua leg home-away, beri ruang lawan bertahan mati-matian, dan Italia kesulitan pecah blok rendah.

Tambah lagi, jadwal padat Nations League ganggu ritme. November 2025, Italia main enam laga kualifikasi sambil hadapi Prancis di semifinal Nations League—hasil imbang 1-1 bikin skuad lelah. Cedera Federico Chiesa dan absen Giorgio Scalvini tambah beban, sementara Norwegia rotasi lebih fleksibel. Data Opta tunjukkan, Italia kalah 15 persen possession di laga playoff terakhir, tapi gagal manfaatkan itu. Spalletti coba adaptasi dengan tambah winger seperti Davide Frattesi, tapi transisi lambat. Playoff jadi cermin kelemahan teknis: Italia kuat bertahan (rata-rata 0,8 gol kebobolan per laga), tapi lemah ciptakan (1,2 gol per laga di grup). Di format 2026 yang tambah slot UEFA jadi 16, tekanan naik—runner-up grup harus taklukkan dua lawan di playoff, bikin margin kesalahan nol.

Tekanan Psikologis: Beban Warisan Empat Bintang

Lebih dari taktik, playoff Italia sulit karena beban mental dari warisan 2006. Empat gelar Piala Dunia ciptakan ekspektasi raksasa, tapi kegagalan beruntun picu sindrom “kutukan playoff.” Pemain seperti Jorginho, kapten saat 2022, akui tekanan media Italia bikin skuad kaku—setiap kesalahan jadi headline nasional. Di 2018, Buffon bilang, “Kami takut gagal lebih dari lapar menang.” Psikolog olahraga sebut ini “choking under pressure,” di mana Azzurri overthink di momen krusial, seperti penalti Candreva meleset vs Swedia.

Budaya sepak bola Italia tambah rumit: federasi FIGC sering ganti pelatih—lima sejak 2016—bikin kurang kontinuitas. Spalletti, baru dua tahun, hadapi skuad campur veteran seperti Ciro Immobile (usia 35) dan muda seperti Alessandro Bastoni. Di playoff 2026 potensial, lawan semi-final bisa tim seperti Ukraina atau Hungaria yang tak punya beban serupa, justru main lepas. Data FIFA tunjukkan, tim dengan histori sukses alami 20 persen penurunan performa di playoff karena overconfidence. Italia, dengan dukungan suporter fanatik, malah tertekan—San Siro yang biasa jadi benteng jadi jebakan jika kalah leg pertama. Spalletti coba bangun mental lewat sesi psikologi, tapi sejarah bilang: tekanan ini sering menang.

Kesimpulan

Playoff Piala Dunia selalu sulit bagi Italia karena perpaduan sejarah menghantui, kelemahan teknis, dan beban psikologis yang berat—bukan kutukan, tapi pelajaran yang belum dipelajari. Dari air mata Buffon 2018 hingga mimpi hancur 2022, Azzurri kini hadapi babak ketiga di 2026, dengan Spalletti pegang kunci perubahan. Jika tak perbaiki finishing dan mental, Maret mendatang bisa ulangi tragedi. Tapi di balik itu, ada harapan: format baru 48 tim beri lebih banyak slot, dan generasi muda seperti Retegui siap pecah lingkaran. Bagi Italia, playoff bukan akhir, tapi ujian identitas—lewati itu, dan bintang kelima menanti. Gagal lagi, dan cerita lama berulang. Waktu tunjukkan, apakah Azzurri bangkit atau tenggelam lebih dalam.

 

BACA SELENGKAPNYA DI…